Hai, senang berjumpa kembali setelah sekian tahun lamanya. Tahun 2020 ini kita mungkin akan lebih rajin membagikan apa yang saya tahu.
Mari kita membayangkan saat kita membeli sesuatu yang mahal pada tahun - tahun kemarin. Tahun 2019 tepat pada bulan November 2019, sebuah Smart Phone dari brand ternama samsung galaxy Note 10 Plus 256 Gb seharga Rp. 16.500.000,- menjadi hadiah dari istri tercinta. Pada saat itu tentu kita beranggapan bahwa dunia sudah berhasil kita dapatkan, tapi di tahun 2020 muncul dari brand yang sama sebuah galaxy Fold, Rp. 30.000.000,-. Kita pasti mempunyai cerita masing - masing dengan sebuah alasan.
Tulisan ini bukan untuk kita yang pada tahun 2020 akan mengakhiri kehidupan, tetapi untuk kita yang pada tahun 2020 akan mengawali kehidupan. Iya, bagi yang tidak menganggap kehidupan, bahwa kita sudah tidak perduli lagi dengan sekitar, itu dapat dikatakan tidak berminat untuk hidup (bertobatlah). Karena sebagai insan yang membutuhkan teknologi dalam kehidupan yang beranjak maju, kita tidak berdiam diri. Kita belajar dan belajar untuk dapat berdampingan dengan alam dan juga berdampingan dengan sesama manusia (pikir istri dan anak bagi yang punya). Tuhan punya maksud dalam teknologi dan manusia yang menciptakannya.
Kembali ke pembahasan yang akan kita bahas hari ini, yaitu tentang KENAPA GADGET SAYA LEMOT? tentu kita paham bahwa tahun ini spesifikasi sebuah gadget yang merajai pasar (dan tentu idaman semua kita) tentunya yang sangat "reliable" kalau bahasa kampungnya. Maksudnya bahwa gadget, seturut dengan perkembangan zaman tentu diharapkan dapat menunjang kebutuhan tentang informasi dan aktualisasi diri. Kebutuhan manusia selain pakaian, makanan dan rumah, tidak dapat dipungkiri bahwa kita membutuhkan kehadiran gadget canggih.
Disamping gadget, secara spesifik akan kita bahas adalah Ponsel Pintar atau bahasa kampungnya "Smart Phone". Tentu kita tahu yang membuat ponsel itu disebut pintar adalah jika ponsel tersebut dapat melakukan berbagai hal dalam satu alat, bahkan jika bisa dalam satu aksi. Iya, dalam satu kali aksi, manusia membutuhkan informasi dan sekaligus aktualisasi diri. Hal tersebut ditawarkan oleh sebuah Ponsel yang Pintar. Konsep tersebut bertambah seiring zaman dalam proses memuaskan kebutuhan tersebut.
Analoginya sederhana. Beberapa dari kita pasti tahu apa itu "aplikasi", aplikasi atau software yang sering kita gunakan di kantor, di rumah, di jalan, di kamar mandi...?, di mana - mana, di tempat lain, bahkan di dunia lain dan dunia manapun. Coba perhatikan saat manusia di sekitar kita menggunakan gadget, entah ponsel atau laptop atau apapun yang portable (jinjing atau bawa keliling) dan simak baik - baik bahwa aplikasi atau software tersebut pasti akan terus di Develop (dikembangkan) seiring berjalannya kebutuhan dan resiko yang berkembang juga, dan tidak menutup kemungkinan hal tersebut juga tidak terlalu kita butuhkan.
Tetapi, tetap saja hal tersebut merupakan trobosan yang dilakukan oleh pengembang aplikasi atau software itu. Tidak perduli kita butuh teknologi yang dibawa dalam pembaharuan atau peningkatan aplikasi atau software, pengembang aplikasi tetap akan memperbaharui atau meningkatkan seluruh aplikasi atau softwarenya.
Seluruh aplikasi ponsel pintar manapun?, artinya pengembang aplikasi tidak perduli ada di level mana ponsel kita, baik atau buruk, baru atau lama, mendukung atau tidak, pihak pengembang hanya tahu bahwa kita berhak mendapatkannya. Inilah penyebab terjadinya peningkatan pada spesifikasi ponsel pintar, yang tentunya agar dapat menjalankan aplikasi atau software tersebut, Ponsel akan menjadi lebih besar (dan lebih dibutuhkan tentunya). Disini tidak perduli anda mampu atau tidak membelinya, yang para pengembang tahu bahwa semua sudah ada yang urus.
Sampai disini apabila kita adalah salah satu pengguna ponsel dibawah tahun 2015, hanya ada satu cara, yaitu berusaha untuk bertahan hidup. Kita perlu tahu bahwa suatu saat ponsel tua akan ditinggalkan baik oleh pengembang ponsel maupun pengembang aplikasi. Nama "Blackberry" harusnya pernah terdengar ditelinga kita (bukan nama buah).
Seluruh aplikasi ponsel pintar manapun?, artinya pengembang aplikasi tidak perduli ada di level mana ponsel kita, baik atau buruk, baru atau lama, mendukung atau tidak, pihak pengembang hanya tahu bahwa kita berhak mendapatkannya. Inilah penyebab terjadinya peningkatan pada spesifikasi ponsel pintar, yang tentunya agar dapat menjalankan aplikasi atau software tersebut, Ponsel akan menjadi lebih besar (dan lebih dibutuhkan tentunya). Disini tidak perduli anda mampu atau tidak membelinya, yang para pengembang tahu bahwa semua sudah ada yang urus.
Sampai disini apabila kita adalah salah satu pengguna ponsel dibawah tahun 2015, hanya ada satu cara, yaitu berusaha untuk bertahan hidup. Kita perlu tahu bahwa suatu saat ponsel tua akan ditinggalkan baik oleh pengembang ponsel maupun pengembang aplikasi. Nama "Blackberry" harusnya pernah terdengar ditelinga kita (bukan nama buah).
Tidak percaya?, mari kita lihat dan bandingkan ponsel tua kita (yang pintar) dengan ponsel baru kita (yang pintar). Perubahan dari fisik ponsel dan kelebihannya membuat kita butuh ditemani oleh ponsel atau gadget tersebut. Zaman sekarang ponsel pintar hampir dapat melakukan segala hal. Gadget lain belum tentu dapat melakukan apa yang ponsel pintar bisa lakukan, keuntungan dari portability ponsel pintar membuatnya menjadi "must have" (kalau kalian tidak punya berarti kalian hidup di zaman batu katanya...).
Analogi di atas menjadi masuk akal ketika di sandingkan dengan "kenapa ponsel yang dibilang pintar mulai timbul masalah" (mungkin tidak pintar lagi). Kita akan mulai mencari alasanya.
Spesifikasi dari perangkat keras mungkin dapat menjadi alasan utama, Jeroan itu artinya dalaman dalam ponsel tersebut ketinggalan zaman. Kemunculan aplikasi canggih menjadi lebih canggih dengan penyesuaian perangkat keras. Tapi ada modifikasi dan peningkatan aplikasi disebabkan oleh perangkat keras yang mengalami peningkatan atau trobosan baru. Perangkat keras itu seperti kamera, penyimpanan sementara (RAM), penyimpanan (ROM/FLASH), dan Otak dari ponsel pintar "Processor". Bahkan, penambahan sensor sidik jari untuk keamanan dan peningkatan atau penambahan kemampuan ponsel dalam memenuhi kebutuhan dan lainnya hanya untuk agar dapat mewujudkan "All In One", kalau bahasa kita "serba ada".
Spesifikasi aplikasi seperti yang kita bahas tadi juga dipengaruhi oleh kebutuhan dan penemuan - penemuan yang dilakukan oleh pengembang aplikasi dalam perjalanan untuk memuaskan kebutuhan manusia. Aplikasi sedapat mungkin dapat menjawab kebutuhan penggunanya. Tidak dapat dipungkiri manusia seperti kita dapat menggunakan beberapa cara dalam mendapatkan pendapat tentang apa yang kita telah lakukan. Pendapat merupakan informasi penting bagi pengembang untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan, pengembang perlu memperbaiki atau menambahkan serta meningkatkan aplikasinya dalam perlombaan popularitas, menggunakan informasi dari pengguna (bukan dengan paranormal). Ini adalah salah satu tehnik dari pengembang, ada lagi statistik, dan juga nilai efektifitas yang semuanya dapat diketahui dari dalam aplikasi. Dengan kata lain penambahan yang dilakukan pengembang tidak dapat di abaikan begitu saja. Itu bentuk komitmen sebagai nilai jual.
Spesifikasi kebutuhan manusia, mungkin kita tidak sedang membagi pola atau tipe. tapi sebuah kebutuhan merupakan aspek penting dari keberadaan ponsel pintar. Harapan terhadap kemudahan hidup bergantung pada Informasi yang didapatkan dan juga Aktualisasi diri yang dapat juga memberi peran. Analoginya itu seperti seorang presiden, kebutuhan seorang presiden dalam tanggungjawab kenegaraannya didapat dari support (dukungan) dari semua pihak. Bagaimana keamanannya? bagaimana penampilannya? bagaimana makanannya? bagaimana tempat tinggalnya? dan lain sebagainya, hal tersebut sangat mempengaruhi status dari rakyatnya, dimata siapa?. Iya, itulah aktualisasi diri, kita ada dan kita butuh untuk menunjukannya melalui informasi yang dapat kita sediakan, tentang kita. Analogi ini menciptakan kebutuhan baru yaitu keamanan informasi, pembatasan (regulasi), manajemen atau manajer yang tugasnya membantu memperhatikan kebutuhan yang begitu banyak, dan banyak lagi kebutuhan yang muncul hingga saat ini, Tahun 2020 mungkin kita tidak sanggup mengukurnya dalam sebuah perangkat keras ponsel yang dapat dibawa kemana - mana dengan mudah. Ini juga menimbulkan sebuah era baru yaitu "CLOUD" (penyimpanan di awan?) dan "AI" (kecerdasan buatan?). Kedua contoh tersebut membutuhkan ruang yang sangat besar, kita tidak membeli sebuah ponsel pintar dengan ruang penyimpanan penuh bukan?.
Jadi secara langsung atau tidak, ponsel pintar kita ada di puncak kejayaannya pada 5 tahun setelah kita membelinya. Suka atau tidak suka kita harus menghadapi kenyataan bahwa setelah 5 tahun efektifitas ponsel kita akan menurun. Pada suatu saat ponsel tersebut tetap akan ditinggalkan oleh teknologi dan oleh pengembang. Hanya museum yang mau menyimpan benda antik. Hanya sejarah yang mau dinikmati oleh generasi selanjutnya bukan kita dan bukan ponsel kita.
Terimakasih dan tetap semangat.
Jadi secara langsung atau tidak, ponsel pintar kita ada di puncak kejayaannya pada 5 tahun setelah kita membelinya. Suka atau tidak suka kita harus menghadapi kenyataan bahwa setelah 5 tahun efektifitas ponsel kita akan menurun. Pada suatu saat ponsel tersebut tetap akan ditinggalkan oleh teknologi dan oleh pengembang. Hanya museum yang mau menyimpan benda antik. Hanya sejarah yang mau dinikmati oleh generasi selanjutnya bukan kita dan bukan ponsel kita.
Terimakasih dan tetap semangat.

Comments
Post a Comment
Take your time and leave a message to show me your curiosity.
just leave it empty? Put an emoticon...
Thanks, for so kind. I appreciate your feedback.
Regards, Theopit.